Fonologi - Pengertian Tata Bunyi, Kajian Fonetik dan Fonemik

Fonologi - Pengertian Tata Bunyi, Kajian Fonetik dan Fonemik
Pada artikel kali ini APAYANG Site membahas lagi nih tentang Linguistik, dan kali ini admin mendapatkan kirimin artikel tentang Fonologi - Pengertian Tata Bunyi, Kajian Fonetik dan Fonemik dari pemilik Blog ALATKECIL Site . ==> Alatkecil Site adalah blog yang membahas tentang tips and trick dan review alat sehari-hari. Langsung saja kita ke materinya ya.
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

  1. Pengertian  Fonologi

Istilah fonologi berasal dari bahasa  Yunani yaitu phone = bunyi, logos = ilmu. Secara harfiah fonologi adalah ilmu bunyi. Menurut Abdul Chaer (2014) fonologi adalh bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahas. Sedangkan dalam Kmus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam ilmu linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.

Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan  yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik). Dalam fonetik objek kajiannya dibagi menjadi tiga, yaitu; fonetik artikulatoris. Fonetik akustis, fonetik auditoris. Sedang dalam Fonem, objek kajiannya adalah; Fonem, Fon, Alofon, dan Alat Ucap.

Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembedsa makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Untuk jelasnya, kalau kita perhatikan baik-baik ternyata bunyi [i] yang terdapat pada kata-kata [intan] [angin] , dan [batik] adalah tidak sama. Begitu juga bunyi [p] pada kata inggris [pace] [space], dan [map], juga tidak sama. Ketidaksamaan bunyi [i] dan bunyi [p] pada deretan kata-kata diatas itulah sebagai salah satu contoh objek atau sasaran studi fonetik.[1]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.  

  1. Beberapa Pengertian Mengenai Tata Bunyi

a)      Fonem
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna.

Fonem dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun jika berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.

b)      Alofon
Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung [...]. kalau [p] yang lepas kita tandai dengan [p] saja, sedangkan [p] yang tidak lepas kita tandai dengan [p>].

  1. Kajian Fonetik

  1. Klasifikasi Bunyi
1)      Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara.
Ø  Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi.
Ø  Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
Ø  Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.

2)      Berdasarkan jalan keluarnya arus udara
Ø  Bunyi nasal yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung.
Ø  Bunyi oral yaitu bunyi yang dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung, sehingga arus udara keluar melalui mulut.

3)      Berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara saat bunyi diartikulasikan
Ø  Bunyi keras (fortis) yaitu bunyi bahasa yang pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus.
Ø  Bunyi lunak (lenis) yaitu bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus.

4)      Berdasarkan lamanya bunyi pada waktu diucapkan atau diartikulasikan
Ø  Bunyi panjang
Ø  Bunyi pendek

5)      Berdasarkan derajat kenyaringannya
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat kenyaringan ditentukan oleh luas atau besarnya ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran bicara waktu membentuk bumi, makin tinggi derajat kanyaringannya. Begitu pula sebaliknya.

6)      Berdasarkan perwujudannya dalam suku kata
Ø  Bunyi tunggal yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
Ø  Bunyi rangkap yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari
Ø  Diftong (vokal rangkap) : [ai], [au] dan [oi], contoh : Sungai, Harimau,
Ø  Klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr] dan [bl], contoh : Produksi, Kredit, Blender

7)      Berdasarkan arus udara
Ø  Bunyi egresif yaitu bunyi yang dibentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru. Bunyi egresif dibedakan menjadi:
                                                                              1.            Bunyi egresif pulmonik : dibentuk dengan mengecilkan ruang paru-paru, otot perut dan rongga dada.
                                                                              2.            Bunyi egresif glotalik : terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalan keadaan tertutup.
Ø  Bunyi ingresif yaitu bunyi yang dibentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru.
                                                                              1.            Ingresif glotalik : pembentukannya sama dengan egresif glotalik tetapi berbeda pada arus udara.
                                                                              2.            Ingresif velarik : dibentuk dengan menaikkan pangkal lidah ditempatkan pada langit-langit lunak.
Kebayakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
  1. Pembentukan Vokal da Konsonan, Diftong dan Kluster
1)      Pembentukan Vokal
Vokal dibedakan berdasarkan tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, bentuk bibir, dan strukturnya. Berikut ini jenis-jenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
a)      Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal netral, dan vokal tak bulat.
b)      Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal tinggi, vokal madya (sedang), dan vokal rendah.
c)      Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang.
d)     Berdasarkan strukturnya : vokal tertutup, vokal semi-tertutup, vokal semi-terbuka, dan vokal terbuka

2)      Pembentukan Konsonan
Pembentukan konsonan didasarkan pada empat faktor, yakni daerah sirkulasi, cara artikulasi, keadaan pita suara, dan jalan keluarnya udara. Berikut ini klasifikasi konsona tyersebut :
a)      Berdasarkan daerah artikulasi : konsonan bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar, palatal, velar, glotal, dan laringal.
b)      Berdasarkan cara artikulasi : konsonan hambat, frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal.
c)      Berdasarkan keadaan pita suara : konsonan bersuara dan konsonan bersuara.
d)     Berdasarkan jalan keluarnya udara : konsonan oral dan konsonan nasal.

3)      Pembenrukan Diftong
Diftong adalah dua vokal yang berdiri bersama dan pada saat diucapkan berubah kualitasnya. Perbedaan vokal dengan diftong adalah terletak pada cara hembusan nafasnya.
            Diftong dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
a)      Diftong /au/, pengucap[annya [aw], contoh :
[harimaw] /[harimau/
[kerbaw] /kerbau/
b)      Diftong /ai/, pengucapannya (ay), contoh :
[santay] /santai/
[sungay] /sungai/
c)      Diftong /oi, pengucapannya [oy], contoh :
[asoy]/asoi

4)      Pembentukan Kluster
Gugus atau kluster adalah deretan konsonan yang terdapat bersama pasa satu suku kata.
a)      Gugus konsonan pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/, dan /d/
b)      Gugus konsonan kedua : /l/,/r/, dan /w/
c)      Gugus konsonan ketiga : /s/,/m/, dan /n/
d)     Gugus konsonan keduanya adalah konsonan lateral /l/, misalnya :
/pl/ [pleno], /bl/ [blanko], dan begitu seterusnya.
e)      Jika tiga konsonan berderet, maka konsonan pertama selalu /s/, yang kedua /t/,/p/ dan yang ketiga adalah /r/ atau /l/. Contohnya : /spr/ [sprey], /skr/ [skripsi] /skl/ [sklerosis]

  1. Kajian Fonemik

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya sitem fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan.

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Jadi pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti, tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna. Umpamanya, dalam bahasa Batak Toba kata tutu (dengan tekanan pada suku pertama) bermakna batu gilas, sedangkan tutu (dengan tekanan pada suku kedua) bermakna benar.[2]

Pengucapan setiap fonem tergantung dari lingkungan fonem yang bersangkutan dan perbedaan alofonemis tidak mengubah identitas fonem itu sendiri. Misalnya dalam bahasa inggris, [t*] dan [t] merupakan dua bentuk atau dua anggota fonem yang kita lambangkan sebagai /t/. Akan tetapi, ada juga perubahan pengucapan fonem yang sedemikian rupa sehingga bentuk yang baru itu merupakan fonem yang lain.[3]

a.       Asimilasi Fonem
Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga  binyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Umpamanya kata sabtu dalam bahasa indonesia lazim diucapkan [saptu], dimana terlihat bunyi [b]  berubah menjadi [p] sebagai akibat dari pengaruh bunyi [t]. Bunyi [b] adalah bunyi hambat bersuara, sedangkan bunyi [t] adalah bunyi hambat tak bersuara. Oleh karena itu, bunyi [b] yang bersuara itu, karena bunyi [t] yang tak bersuara, berubah menjadi bunyi [p] yang juga tak bersuara.

b.      Disimilasi
Sepertihalnya asimilasi menyebabkan penyamaan fonem yang berbeda atau berubahnya bunyi fonem, maka apa yang disebut disimilasi adalah menyebabkan dua fonem yang sama (berdekatan atau tidak) menjadi fonem yang lain.

Contoh dalam bahasa indonesia, /belajar/ yang dihasilkan oleh penggabungan awalan ber- dan ajar. Akan tetapi bentuk /berajar/ mempunyai dua /r/ dan dalam bahasa indonesia ada kecenderungan untuk menghindari dua /r/ dalam kata yang berlawalan ber-.


[1] Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta:RINEKA CIPTA, 2014, hlm. 102
[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta:RINEKA CIPTA, 2014, hlm. 129
[3]  J.W.M Verhaar, Asas-Asas Linguistik Umum, Yogyakarta:GAJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 2010, hlm. 77

Backlink Bahasa

Dapatkan Artikel Menarik Setiap Harinya!

  • Info menarik seputar Life, Sains, dan Sejarah.

0 Response to "Fonologi - Pengertian Tata Bunyi, Kajian Fonetik dan Fonemik"

Post a Comment

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.